Jumat, 16 Desember 2011

Tujuan Pembelajaran Matematika

2.1 Pengertian Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950 yang diterapkannya dalam ilmu perilaku (behavioral science) dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Kemudian diikuti oleh Robert Mager yang menulis buku yang berjudul Preparing Instructional Objective pada tahun 1962. Lalu diterapkan secara meluas pada tahun 1970 di seluruh lembaga pendidikan termasuk Indonesia.
Berikut ini beberapa pengertian yang diutarakan para ahli pembelajaran tentang tujuan pembelajaran:
1.    Robert F. Mager (1962) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
2.    Edward L. Dejnozka, David E. Kapel (1981) dan Kemp memandang bahwa tujuan pembelajaran ialah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
3.    Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
4.    Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.
5.    Menurut Standar Proses pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajara yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Dapat pula kita defenisikan tujuan pembelajaran sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.
Berikut ini beberapa manfaat dari tujuan pembelajaran sbb:
1.      Rumusan tujuan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan itu merupakan indikator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
2.      Tujuan pembelajaran dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa. Tujuan yang jelas dan tepat dapat membimbing siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar. Berkaitan dengan itu, guru juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu siswa belajar.
3.      Dapat membantu dalam mendesain system pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode/ strategi pembelajaran, alat, media dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa.
4.      Dapat digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, guru bisa mengontrol sampai di mana siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku.
Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara  lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Berikut ini yang dapat diperoleh dari perumusan tujuan pembelajaran sbb:
1.    Waktu mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
2.    Pokok bahasan dapat dibuat seimbang, sehingga tidak ada materi pelajaran yang dibahas terlalu mendalam atau terlalu sedikit.
3.    Guru dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya disajikan setiap jam pelajaran.
4.    Guru dapat menetapkan urutan dan rangkaian materi pelajaran secara tepat.
5.    Guru dapat menjamin bahwa hasil belajarnya akan lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar tanpa tujuan yang jelas.

2.2    Pengertian Tujuan Pembelajaran Matematika
Pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara belajar dan mengajar. Herman Hudojo menyatakan bahwa matematika merupaka ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol, tersusun secara hirarki dan penalarannya dedukti, sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Adapun Mulyono Abdurahman mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang betuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dsb.
Mata pelajaran matematika berfungsi melambangkan kemampuan komunikasi dengan menggambarkan bilangan-bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat memberi kejelasan dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun tujuan dari pembelajaran matematika adalah:
1.   Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dan pola pikir dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang.
2.   Mempersipakan siswa meggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari dan dalam mepelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Dari uraian di atas menjelaskan bahwa kehidupan di dunia ini akan terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi/ oleh karena itu siswa harus memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemamuan bekerja sama yang efektif. Dengan demikian, maka seorang guru harus terus mengikuti perkembangan matematika dan selalu berusaha agar kreatif dalam pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat membawa siswa ke arah yang diinginkan.
2.3    Perumusan Tujuan Pembelajaran
Dalam menuliskan tujuan pembelajaran, perlu diperhatikan penggunaan tata bahasa yang digunakan, karena itu tujuan pembelajaran haruslah jelas penulisannya, artinya tanpa diberi penjelasan tambahan apa pun, pembaca (guru atau siswa) dapat menangkap maksudnya. W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menegaskan bahwa seorang guru profesional harus merumuskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diukur yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh siswa tersebut sesudah mengikuti pelajaran. Selanjutnya, dia menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran, yaitu: (1) preferensi nilai guru yaitu cara pandang dan keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya; dan (2) analisis taksonomi perilaku; dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor. Berbicara tentang perilaku siswa sebagai tujuan belajar, saat ini para ahli pada umumnya sepakat untuk menggunakan pemikiran dari Bloom (Gulo, 2005) sebagai tujuan pembelajaran. Bloom mengklasifikasikan perilaku individu ke dalam tiga ranah atau kawasan (yang merupakan tujuan dari pembelajaran), yaitu kawasan kognitif, afektitif, dan psikomotor.
1.         Kawasan kognitif
Kawasan kognitif adalah kawasan yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi (kawasan ini berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau berpikir/ nalar. Ada enam tingkatan dalam kawasan kognitif:
a.    Tingkatan pengetahuan (knowledge), pengetahuan diartikan kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh: Siswa dapat menggambarkan satu buah segitiga sembarang.
b.    Tingkat pemahaman (Comprehension), pemahaman diartikan kemampuan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya. Contoh: Siswa dapat menjelaskan kata-katanya sendiri tentang perbedaan bangun geometri yang berdimensi dua dan berdimensi tiga.
c.    Tingkat penerapan (application), maksudnya kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: Siswa dapat menghitung panjang sisi miring dari suatu segitiga siku-siku jika diketahui sisi lainnya
d.   Tingkat analisis (analysis), dimaksudkan kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Contoh: Mahasiswa dapat menentukan hubungan berbagai variabel penelitian dalam mata kuliah Metodologi Penelitian.
e.    Tingkat sintesis (synthesis), kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Contoh: Mahasiswa dapat menyusun rencana atau usulan penelitian dalam bidang yang diminati pada mata kuliah Metodologi Penelitian.
f.     Tingkat evaluasi (Evaluation), kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan criteria atau pengetahuan yang dimilikinya. Contoh: Mahasiswa dapat memperbaiki program-program computer yang secara fisik tampak kurang baik dan kurang efisien pada mata kuliah Algoritma dan pemrograman.
2.         Kawasan Afektif
Kawasan afektif adalah ranah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Ada lima tingkatan dalam kawasan afektif ini, yaitu:
a.    Kemauan menerima (receiving);
b.    Kemauan menanggapi (responding);
c.    Berkeyakinan, berkenaan dengan kemauan menerima system nilai tertentu pada diri individu. Seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi (penghargaan) terhadap sesuatu, kesungguhan untuk melakukan suatu kehidupan social.
d.   Penerapan karya, penerimaan terhadap berbagai system nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu system nilai yang lebih tinggi. Seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab, bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukanm, memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, atau menyadari peranan perencanaan dalam memecahkan suatu permasalahan.
e.    Ketekunan dan ketelitian, merupakan tingkatan afeksi yang tertiggi. Individu yang telah memiliki system nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan system nilai yang dipegangnya.
3.         Kawasan Psikomotor
Kawasan psikomotor berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ada beberapa tingkatan pada kawasan ini yaitu:
a.    Persepsi, penggunaan indera dalam melakukan kegiatan. Misalnya menghubungkan suara music dengan tarian tertentu.
b.    Kesiapan, kesiapan melakukan suatu kegiatan, termasuk kesiapan mental, physical set (kesiapan fisik), atau emotional set (kesiapan emosi perasaan) untuk melakukan suatu kegiatan.
c.    Mekanisme, penampilan repon yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasaan, sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan pada kemahiran. Contohnya menulis halus, menari, atau menata laboratorium.
d.   Respon terbimbing, meniru/ mengikuti, mengulangi perbuatan yang ditunjukkan oleh orang lain.
e.    Kemahiran, penampilan gerakan motorik dengan keterampilan penuh.
f.     Adaptasi, keterampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga ia mampu memodifikasi pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
g.    Originasi, penciptaan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi tertentu.  
Menurut Mager tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga elemen utama, yakni:
1.         Menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang sebaiknya dikuasainya pada akhir pelajaran.
2.         Perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku tersebut.
3.         Perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.
Hamzah B. Uno (2008) mengemukakan tentang teknis penyusunan tujuan pembelajaran dalam bentuk format ABCD yaitu:
A = audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid, dan sasaran didik lainnya).
B = behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar).
C  = condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai).
D  = degree (tingkat penampilan yang dapat diterima).
Dalam menuangkan behavior yang akan diukur, perlu dihindari kata-kata kerja yang tidak operasional. Penuangan kata kerja yang operasional dan nonoperasional sangat berpengaruh pada proses penilaian guru. Dalam hal ini kata kerja operasional yang dirumuskan, dapat memudahkan guru untuk mengukur kegiatan siswa serta mempermudah penyusunan tes. Sedang kata kerja yang nonoperasional, sangat banyak menyulitkan guru dalam membuat tes untuk mengukur keberhasilan tujuan, mengingat kata kerja nonoperasional sifatnya luas cakupannya dan tidak jelas. Berikut ini beberapa kesalahan umum merumuskan tujuan pembelajaran, Drs. Harjanto (2006: 217):
1.         Tidak cukup spesifik dan operasional, contoh:
Kurang benar  : “Agar siswa mengetahui bentuk aljabar”
Benar              : “Siswa dapat mengoperasikan bentuk aljabar”      
2.         Lebih melukiskan tingkah laku guru daripada siwa, contoh:
Kurang benar  : “Mengajarkan cara memfaktorkan”
Benar              : ”Siswa dapat menyelesaikan soal tentang pemfaktoran” 
3.         Tidak merumuskan kondisi yang dibutuhkan untuk timbulnya tingkah laku yang dikehendaki, contoh:
Kurang benar  : “Agar siswa sanggup memecahkan soal-soal sederhana
                          dari angka satu sampai dengan sepuluh”
Benar              : “Tanpa menggunakan suipoa, siswa dapat memecahkan
                           soal-soal sederhana dari satu sampai dengan sepuluh”
Berikut ini beberapa kata kerja operasional dari tiga domain sebagaimana yang dituliskan di atas:
1.      Kawasan Kognitif
a.    Tingkat pengetahuan: menyusun, mendefenisikan, menyalin, menghafalkan.
b.    Tingkat pemahaman: mengklasifikasikan, menggambarkan, mendis-kusikan, menjelaskan, mengungkapkan.
c.    Tingkat penerapan: menerapkan, memilih, mendemonstrasikan, mengerjakan, mengoperasikan.
d.   Tingkat analisis: mengenali, mengira-ngira, dan menghitung.
e.    Tingkat sintesis: mengatur, merangkum, dan mengumpulkan.
f.     Tingkat evaluasi: membuat argumentasi, mengoreksi, dan melampirkan.
2.      Kawasan Afektif
a.    Tingkat menerima: menerima, menantang, dan mendengar
b.    Tingkat respon: mempertahankan dan memperdebatkan
c.    Tingkat menilai: memutuskan, menawarkan, dan berpendapat
d.   Mengorganisasi: merumuskan, membagi, dan mendukung
e.    Tingkat karakteristik: mengunjungi, berbuat suka rela.
3.      Kawasan Psikomotor
a.    Gearakan seluruh badan: senam, bertanding, dan latihan
b.    Gerakan yang terkoordinasi: mengetik.
c.    Komunikasi nonverbal: iyarat (tangan, mulut, mata).
d.   Kebolehan dalam bicara: pidato, berargumentasi.
Berikut ini beberapa contoh tujuan pembelajaran dari indikator pembelajaran Matematika:
Indikator
Tujuan Pembelajaran
1.2.1 Menentukan integral dengan dengan cara substitusi untuk fungsi aljabar.
·         Siswa dapat menentukan integral dengan menggunakan rumus integral subtitusi untuk fungsi aljabar.
2.2.1 Menggunakan rumus perbandingan vektor.
·         Siswa dapat mengoperasikan rumus perbandingan vektor.
3.2.1  Mengenal arti sistem pertidaksamaan linear dua variabel.
·         Siswa dapat mendefenisikan arti dari pertidaksamaan linear dua variabel.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada Media Goup.
Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Gorontalo: Bumi Aksara.
Hasyim, Hadi Muttaqin. 2009. Tujuan Pembelajaran Matematika. Tersedia Pada: http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/06/14/tujuan-pembelajaran-matematika. Diakses pada 02 Maret 2011.
Istiqamah. 2010. Taksonomi dan Tujuan Pembelajaran. Tersedia pada: http://materibidan.blogspot.com/2010/05/taksonomi-dan-tujuan-pembelajaran.html. Diakses pada 02 Maret 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar